Sosial
Bagikan berita :
Senin, 17 Oktober 2016 - 00:48:59 | r1 / Sorot Gunungkidul

Mahalnya Air di Padukuhan Ini, Harus Korbankan Motor, Sapi dan Jari Manusia

Mahalnya Air di Padukuhan Ini, Harus Korbankan Motor, Sapi dan Jari Manusia
Space Iklan
Nanang saat ditemui di ruang mesin sumur bor padukuhan yang dikoelolanya (Foto by Huri Ananda)

Paliyan,(sorotgunungkidul.com)—Kesulitan air merupakan masalah klise namun banyak terjadi di wilayah Gunungkidul. Bertahun-tahun, masalah semacam ini masih belum ditemukan solusi terbaik dalam mengatasi hal ini. Upaya demi upaya yang dilakukan pemerintah masih beluim efektif mengatas persoalan ini. Warga Gunungkidul masih harus bersudah payah dan bahkan harus mengeluarkan biaya tak sedikit demi mendapatkan sumber daya pokok bagi kehidupan ini.

Seperti yang dilakukan oleh para warga Padukuhan Lemahbang, Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan. Segala daya upaya harus dilakukan demi mendapatkan sumber air. Bahkan demi mencari sumber air, salah seorang warga sampai harus kehilangan jari-jari tangannya.

Dimotori oleh salah seorang guru honorer, Nanang Arifin (34) para warga mulai melakukan pencariqan sumber air pada tahun 2013 lalu. Meski beberapa kali kegagalan, tak membuat asa Nanang dan teman-temannya putus dalam mewujudkan impian mereka memenuhi kebutuhan air warganya.

Ditemui sorotgunungkidul.com, Nanang mengungkapkan bahwa awalnya dia merasa terharu setiap hari harus melihat warganya terutama saat musim kemarau harus menempuh jarak hingga berkilo-kilometer untuk mencari sumber air. Satu-satunya hal yang terpikir di benaknya saat itu adalah bagaimana  harus ada mata air (sumur bor) di wilayahnya tanpa harus membebani warganya guna mengurangi beban hidup mereka.

“Akhirnya saya bertekad untuk mencari sumber air di wilayah saya sendiri,” terang Nanang, Minggu (16/10/2016) petang.

Awalnya ia sama sekali tak mempunyai modal sepeserpun untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Berbekal tekad kuat, ia nekat menjual sepeda motor miliknya untuk mewujudkan impiannya itu. Namun rupanya dana hasil penjualan motor itu tak membuahkan hasil. Beberapa kali pengeboran yang ia lakukan tak kunjung menemukan sumber air.

“Uang sudah habis, tapi gagal terus. Padahal saya ngebor sudah 5 tempat,” lanjutnya.

Seperti kalap, Nanang pun memutuskan untuk menjual sapi milik keluarga untuk biaya tambahan usaha mencari sumber air. Pada usaha kedua ini, akhirnya keyakinannya membuahkan hasil. Nanag dan kawan-kawannya berhasil menemukan sumber air dalam pengeboran yang kesekian. Meski demikian, selain biaya, pengorbanan lain juga harus ditanggung oleh salah seorang rekannya, Nasito yang mengalami kecelakaan di mana tangannya harus terjepit di mesin saat mengebor. Nasito pun harus kehilangan 2 jarinya yang harus diamputasi lantaran hancur.

“Sebenarnya lima jari yang terjepit, tapi yang 3 tidak harus diamputasi meski mengalami cacat,” paparnya.

Sumber air yang didapat Nanang rupanya cukup melimpah. Tak hanya mampu mencukupi kebutuhan di Padukuhannya, akan tetapi sampai bisa mencukupi kebutuhan air di beberapa Padukuhan di sekitarnya yaitu, Padukuhan Kedungdowo, Desa Pampang, Kecamatan Paliyan dan Padukuhan Trukan, Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan.

Ditambahkan Nanang, sebenarnya untuk debit air masih bisa mencukupi wilayah lainnya, akan tetapi ia lagi-lagi terkendala dana untuk membangun jaringan pipa. Proposal kepada pemerintah yang ia buat sejak beberapa tahun lalu tak kunjung mendapatkan respon.

“Sebenarnya tidak masalah jika pemerintah mau membantu pipa, tapi ya itu sampai sekarang tidak ada kejelasan,” tuntas dia. (Huri)

Berita Terkait :