Sosial
Bagikan berita :
Sabtu, 22 Oktober 2016 - 15:48:13 | tsaniyah-faidah / Sorot Gunungkidul

Berjuang 6 Tahun Melawan Kanker, Sumarmi Akhirnya Meninggal Dunia

Berjuang 6 Tahun Melawan Kanker, Sumarmi Akhirnya Meninggal Dunia
Space Iklan
Marwoto (kiri) dan suasana rumah duka menjelang pemakaman

Wonosari,(sorotgunungkidul.com)--Sumarmi Ningsih (44), warga Padukuhan Karangduwet I, Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari penderita kanker payudara akhirnya meninggal dunia di rumah, Sabtu (22/10/2016) sekitar pukul 09.30 WIB.

Setelah berjuang melawan penyakit selama 6 tahun, Marwoto (42), suami Sumarmi rela melalang buana mencari bantuan demi pengobatan Sang istri tercinta. Alhasil, bantuan yang ia dapat hanya dari yayasan tanpa adanya bantuan dari pemerintah.

"Dulu pertama kali pernah berobat di Bantul. Terus rawat jalan, tapi satu tahun kemudian tumbuh lagi dan ada pemecahan. Terus dibawa ke RS Harjolukito nggak ada perkembangan. Saya bawa ke Bogor di RS Dhuafa, di sana ngontrak. Kemudian disarankan untuk diangkat tapi ke Fatmawati, cuma nunggunya satu tahun baru dipanggil. Ya saya udah pulang lagi ke rumah," ceritanya di rumah duka, Sabtu (22/10/2016).

Selama di rumah, bantuan dari Dhuafa Jogja tetap berjalan berupa obat-obatan yang harus dikonsumsi Sumarmi secara gratis. Sehingga segala bantuan dan peralatan yang dibutuhkan dalam pengobatan Sumarmi berasal dari yayasan tersebut.

"Dari Dhuafa juga menyarankan untuk diangkat payudaranya sebab sudah ada 2 benjolan sebesar telur ayam. Tapi istri saya nggak mau, takut katanya. Padahal kankernya sudah menyebar. Biaya operasi juga sebenarnya akan digratiskan," papar Marwoto yang sehari-harinya bekerja sebagai pengangkut barang bekas atau tukang rongsok.

Bapak 3 anak itu menerangkan, kondisi sebulan terakhir Sumarmi sering mengalami pendarahan di payudara sebanyak 7 kali hingga membuat istrinya harus dirawat di RSUD Wonosari selama 5 hari. Kemudian dipindah lagi ke rumah sakit Panti Rahayu selama 3 hari hingga akhirnya meninggal dunia di rumah.

Selama menderita kanker, kondisi Sumarmi pun semakin lama semakin menurun. Nafsu makan ikut menyusut. Penurunan kondisi sudah terjadi sejak 2 tahun terakhir hingga membuatnya tak bisa melakukan aktifitas layaknya perempuan normal.

Sementara itu, Rustiyem, tante dari Marwoto membenarkan bahwa hampir setiap hari keponakannya bekerja keras mencari bantuan dana dari yayasan. Sebab bantuan pemerintah tak satupun ada yang mengalir. Selain itu, dia juga tetap bekerja mencari nafkah untuk menghidupi istri dan ketiga anak laki-lakinya.

 

Berita Terkait :