Sosial
Sabtu, 27 April 2013 - 17:53:06 | wheny-marisa / Sorot Gunungkidul

DUKUNG SENTRA KERAJINAN ANYAMAN, PEMKAB GENCAR TANAM BAMBU
DUKUNG SENTRA KERAJINAN ANYAMAN, PEMKAB GENCAR TANAM BAMBUDUKUNG SENTRA KERAJINAN ANYAMAN, PEMKAB GENCAR TANAM BAMBUSorot Gunungkidul

Paliyan, (sorotgunungkidul.com) Dalam upaya mendukung keberadaan sentra industri kecil anyaman yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan, Pemkab Gunungkidul melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan telah menggalakkan penanaman tanaman bambu sejak 2 tahun terakhir ini. Penanaman bambu telah menyasar di 4 kecamatan meliputi Semin, Patuk, Purwosari dan Karangmojo.   

“Selama 2 tahun ini kami telah berhasil menanam tanaman bambu jenis Wuluh dan Apus di lahan seluas sekitar 40 hektar yang tersebar di 4 kecamatan. Tujuannya untuk menambah jumlah ketersediaan bahan baku bambu yang dibutuhkan para perajin,” Ungkap Beni Silalahi, Kabid Kehutanan Dishutbun Gunungkidul kepada sorotgunungkidul.com.

Sementara dari pantauan wartawan di sentra  kerajinan bambu di Kecamatan Paliyan, beberapa perajin tampak mengeluhkan kesulitan bahan baku bambu. Mereka terpaksa membeli bambu dari luar Kecamatan Paliyan seharga puluhan ribu rupiah/batang.

Menurut Irwan (27), perajin sangkar burung asal Desa Sodo, Kecamatan Paliyan, bahwa sejak beberapa tahun lalu para perajin setempat merasa kesulitan untuk mendapatkan bahan baku bambu jenis Apus dan Wuluh. Terpaksanya mereka harus membeli bambu dari Kecamatan Patuk dan Nglipar dengan harga berkisar antara Rp 15.000 – Rp 18.000/batang.

“Jumlah pohon bambu di wilayah sodo akhir – akhir ini sudah sangat minim. Hal itu disebabkan jumlah pohon bambu tidak sebanding dengan jumlah perajin yang ada. Oleh karena itu sejak beberapa tahun lalu harus impor bambu dari luar Kecamatan Paliyan, biasanya dari Patuk dan Nglipar,” terangnya kepada sorotgunungkidul.com, Sabtu (27/04/2013).

Senada dengan Irwan, Sukasih (33) perajin anyaman setempat membenarkan bahwa sebagian besar perajin bambu di Sodo dan sekitarnya memang harus membeli bahan baku bambu dari Patuk dan Nglipar. Untuk memproduksi anyaman kelas rumahan setiap hari seperti kukusan, parut, tampah, kalo dan tambir, dirinya membutuhkan bambu sekitar 3 batang. Barang tersebut kemudian dijual di pasar tradisional Desa Sodo seharga Rp 2.000 – Rp 5.000/buah. (Adit)

Berita Terkait :


HOT NEWS
dava3.jpgwirawisata.gifseminar_umroh2.jpglampuantikbarokah.jpg