Pendidikan
Bagikan berita :
Selasa, 29 November 2016 - 09:05:52 | tsaniyah-faidah / Sorot Gunungkidul

Waspada, Paham Radikal Sasar Remaja dan Pelajar

Waspada, Paham Radikal Sasar Remaja dan Pelajar
Space Iklan
ilustrasi by google

Wonosari,(sorotgunungkidul.com)--Persoalan radikalisme saat ini memang sudah sangat darurat. Kenyataan bahwasanya banyak pula diantara para pelaku terorisme yang ditangkap masih berusia remaja membuktikan bahwa paham radikalisme sudah tumbuh dan berkembang di kalangan remaja dan pelajar.

Generasi muda setingkat SMP atau SMA seakan menjadi sasaran utama penanaman paham radikal. Para penyebar paham ini sadar bahwa dalam usia yang muda, para remaja dan pelajar tersebut sangat mudah terpengaruh paham-paham ekstrim yang belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya. Cuci otak kepada pelajar sangat mudah dirasuki karena kondisi mental anak muda yang cenderung masih labil dan bersih.

Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul, Bahron Rosyid mengatakan, dewasa ini banyak perekrutan kelompok terorisme yang mengatasnamakan jihad dengan mencuci otak para siswa. Dalam memaknai jihad, mereka bisa diajarkan untuk siap berkorban melawan apapun termasuk kegiatan yang merugikan.

"Pelajar pikirannya memang masih murni dan relatif bersih sehingga masih sangat dimungkinkan dimasuki berbagai macam kepentingan paham dan sebagainya," jelasnya, Selasa (29/11/2016).

Dijelaskan Bahron, biasanya penganut radikalisme akan masuk dengan mengatasnamakan kelompok agama lalu merekrut sasaran mereka untuk menjadi anggotanya. Selain itu bisa melalui teknologi di zaman yang canggih ini, media sosial menjadi perantara kejahatan mereka. Berkenalan via facebook atau twitter kemudian korban diajak ketemu dan dibawa ke suatu tempat terpencil dan jauh dari masyarakat. Disitulah pelaku cuci otak berusaha meyakinkan korbannya dengan pemikiran-pemikirannya.

Untuk mengantisipasi hal itu terjadi, pihak Disdikpora menghimbau kepada para guru di sekolah untuk menanamkan nilai anti radikalisme agar jangan sampai para pelajar dimasuki dengan pikiran-pikiran radikal dan terorisme. Hal ini dilakukan sedini mungkin lewat setiap mata pelajaran agar anak-anak memiliki sikap berjuang yang positif, bukan dalam hal yang ekstrim.

"Kami memang ada pada teman-teman guru semua untuk ditanamkan pemahaman ke seluruh mata pelajaran terhadap pemikiran-pemikiran yang sifatnya mengarah pada terorisme," kata Bahron.

Dia mengakui, hingga saat ini di Kabupaten Gunungkidul pihaknya belum menemukan adanya pelajar Gunungkidul yang pemikirannya dimasuki paham-paham tersebut. Meski begitu, tak dipungkiri pada usia remaja memang sangat rentan dimasuki pemikiran radikalisme. Oleh karena itu, Bahron berharap antisipasi tidak hanya dilakukan oleh sekolah tetapi orangtua juga bisa turut berperan serta melindungi anak-anaknya dari paham yang tidak diinginkan.

Berita Terkait :


dava3.jpg
HOT NEWS
meloncell.jpg
rahma jaya.jpg