Pendidikan
Bagikan berita :
Minggu, 04 Desember 2016 - 11:16:46 | -bambang-wahyu / Sorot Gunungkidul

Ujian Sekolah Diubah Esai, Para Guru Ditumpuki Pekerjaan Berat

Ujian Sekolah Diubah Esai, Para Guru Ditumpuki Pekerjaan Berat
Space Iklan
Ilustrasi kegiatan belajar mengajar (Foto by net)

Wonosari, (sorotgunungkidul.com)--Soal ujian dalam bentuk pilihan ganda yang selama ini diberlakukan untuk mengukur kamampuan anak dalam berfikir kritis, menurut pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud dianggap tidak tepat. Menurut rencana, tahun 2017 UN akan dihapus dan diganti dengan sistem Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN). Bentuk soal ujian pun rencananya digeser dari multiple choice  (pilihan ganda) ke uraian / esay. Rencana ini nantinya akan menambah beban pekerjaan bagi guru.

Slamet Riyanto, guru SMA Negeri II Wonosari, mengungkapkan para guru bisa dikatakan bakal menghadapi pekerjaan yang tidak bisa dibilang ringan. Saat meneliti pekerjaan ujian siswa, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Selain meneliti jawaban, guru juga nantinya akan berhadapan dengan tulisan siswa. Menurut Slamet, tidak semua tulisan siswa mudah dibaca. Ada diantara tulisan tangan mereka adalah tulisan yng ia sebut sebagai cowek. Maksudnya adalah tulisan yang hanya bisa diwaca dhewek atau dibaca oleh penulisnya sendiri.

“Mengoreksi hasil ujian dalam bentuk esay, butuh waktu lama. Secara teknis, energi korektor esai akan terkuras untuk tiga hal; Pertama harus mencermati tulisan peserta didik secara seksama; Kedua harus menafsirkan makna kalimat siswa secara tepat; Dan ketiga juga harus bisa menghargai alur dan logika pikiran siwa sesuai tingkat kedewasaan mereka. Menurut pengalaman saya ini tidak mudah,” ujar Slamet Riyanto, Minggu (04/12/2016) siang.

Model, corak serta bentuk tulisan tangan peserta didik, demikian Slamet mencoba membandingkan dengan kemampuan murid era 1950 hingga 1960-an adalah jauh berbeda. Penyebabnya, di jenjang sekolah tingkat dasar, saat ini tidak lagi diajarkan pelajaran menulis rapi dan bagus.

“Itu belum dilihat dari sisi bagaimana siswa mengolah logika dalam bentuk penyusunan kalimat yang efektif sehingga mudah dipahami oleh pembaca,” tandasnya.

Guru senior ini berpendapat, ketidakruntutan berfikir ini disebabkan oleh kesalahan pada sistem pengajaran Bahasa Indonesia. Di negeri ini, kata dia, bahasa Indonesia hanya diajarkan rata-rata dua kali seminggu. Di Amerika bahasa Inggris diajarkan setiap hari, dalam 4 (empat) ketrampilan sekaligus meliputi: ketrampilan membaca, menulis, berbicara, serta ketrampilan mendengarkan. Tak heran kemampuan mengutarakan pendapat antara siswa di Indonesia dengan Amerika Serikat sangat berbeda jauh.

“Mike Tyson yang hanya petinju saja jika diwawancarai bisa mengutarakan dengan runut dan jelas. Itu menunjukan bahwa program pendidikannya memang bagus dan berhasil,” ujar dia.

Tulisan siswa tak mudah dibaca, logika berfikir tidak runtut, menurut Slamet Riyanto bukan mutlak kesalahan ditimpakan kepada para guru bahasa Indonesia. Persoalan tersebut merupakan tanggungjawab Pemerintah.

“Guru bahasa Indonesia  hanya pelaksana kebijakan pemerintah pusat, dalam hal ini Kemendikbud. Soal ujian dalam format esay tak masalah, yang penting sistem pengajaran bahasa Indonesia diperbaharui. Termasuk anak diajari menulis bagus lagi,” pungkasnya.

 

 

Berita Terkait :