Hukum/Kriminal
Bagikan berita :
Jumat, 16 Desember 2016 - 14:17:22 | renna-anggabenta / Sorot Gunungkidul

Kasus Pencabulan Anak TK, Ini Hasil Visum Korban

Kasus Pencabulan Anak TK, Ini Hasil Visum Korban
Space Iklan
ilustrasi by google

Wonosari,(sorotgunungkidul.com)--Proses penyelidikan pihak kepolisian terkait kasus pencabulan memilukan yang menimpa Kuncup (5) warga Playen terus dilakukan. Hingga saat ini, beberapa saksi sudah diperiksa oleh penyidik dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Gunungkidul. Polisi juga tengah menganalisa hasil visum dari pihak rumah sakit terkait kondisi korban akibat ulah terlapor, T (15) yang tak lain adalah tetangga korban.

Kasat Reskrim Polres Gunungkidul, AKP Mustijat Priyambodo mengungkapkan, hingga saat ini, pihak kepolisian belum menetapkan tersangka terkait laporan pencabulan yang masuk pada 30 November 2016 silam tersebut. Mustijat membantah bahwa pihaknya lamban dalam melakukan penanganan. Hal tersebut terpaksa dilakukan karena untuk kasus ini, tentunya penanganan khusus perlu dilakukan mengingat korban masih berusia 5 tahun.

“Kita memilih tidak tergesa-gesa, jangan sampai hal ini justru membuat pelapor semakin tertekan. Ini yang menjadi pertimbangan kami mengapa hingga saat ini, pemeriksaan masih terus berlangsung dan belum ada penetapan tersangka,” papar Mustijat, Jumat (16/12/2016).

Ditambahkan Kasat Reskrim, dari hasil visum, tidak ditemukan kerusakan pada alat vital korban. Analisis penyidik, terlapor diduga hanya menggesek-gesekan jarinya di luar alat vital korban. Penyidik sendiri saat ini sudah memeriksa lebih dari 5 orang saksi. Sedangkan untuk terlapor, masih belum ada penjadwalan pasti terkait waktu pemeriksaan.

“Kita masih menunggu pemeriksaan saksi selesai. Terutama pemeriksaan saksi kunci sekaligus korban yang paling penting,” lanjut dia.

Sementara, pihak UPPA Satreskrim Polres Gunungkidul melibatkan pihak ketiga dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk melakukan pendampingan kepada korban. Diharapkan dengan pendampingan ini, kondisi psikologis korban bisa dipulihkan dan tidak mengalami trauma.

“Kondisi psikologis ini yang jadi prioritas kami selain penanganan secara hukum,” tutup dia.

Berita Terkait :