Budaya
Bagikan berita :
Minggu, 01 Januari 2017 - 09:42:43 | -bambang-wahyu / Sorot Gunungkidul

Penyair Yunani Kuno, Sophokles Tampil Memukau di Alun-Alun Wonosari

Penyair Yunani Kuno, Sophokles Tampil Memukau di Alun-Alun Wonosari
Space Iklan
Penampilan Odipus Sang Raja saat menjelang pergantian tahun

Wonosari,(sorotgunungkidul.com)--Panggung seni Alun-alun Wonosari menyambut tahun 2017 yang dipandu Heri Nugroho, seorang budayawan, dalang sekaligus anggota DPRD Gunungkidul menyajikan menu berbeda. Sebuah catatan khusus, panitia berani menyajikan menu istimewa dalam wujud parade seni. Sisi lain, pelaku budaya kususnya ketoprak mencoba menerobos kebiasaan. Cerita yang disuguhkan tidak sembarang lakon. Odipus Sang Raja karya Sophokles tampil memukau.

Sabtu  malam (31/12/2016), langit Kota Wonosari tanpa ditandai mendung. Campur Sari Kecubung Gadung (CSKG) asal Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar yang diback up habis-habisan oleh pemiliknya yakni Mayor Sunaryanto dimanja karena dalam semalam dua kali naik panggung.

CSKG dipercaya membuka  sekaligus menutup acara. Seni yang berbeda, wayang kulit dengan dalang bocah bersama dalang muda dikolaborsikan dalam saku kelir panjang, pamer kebolehan lebih kurang 60 menit.

Sebelum CSKG tampil untuk yang kedua kalinya, ketoprak moderen dengan lakon klasik “Odipus Sang Raja” garapan Bondan Nusantara, memukau penonton selama 2 X 60 menit, meski sound system kurang mendukung kerap berdenging diteriaki penonton.

Wahyu Maretha Dwiantari, seorang penonton dan penikmat seni teater mengapresiasi keberanian sutradara lantaran nekad memilih lakon yang berasal dari Yunani Kuno. Menurutnya, latar belakang lakon tersebut sangat berbeda dengan ketoprak yang acap dimainkan di lingkup DIY.

“Tetapi klau naskah itu kemudian dinyatakan sebagai tulisan Bondan Nusantara, seperti diinformasikan Pak Heri Nugroho, saya enggak begitu sependapat,” ujarnya seraya ceprat-cepret mengabadikan adegan.

Odipus Sang Raja, lanjut Mareta, adalah karya Sophokles. Dia merupakan penyair sekaligus penulis drama hebat Yunani kuno yang hidup pada 496 hungga 406 sebelum masehi.

Pesan moral yang disampaikan ke penonton pun oleh sutradara agak digeser dari karya asli. Namun untuk tataran hiburan, khusus pelaku kethoprak di Gunungkidul ada perubahan. “Penonton dibuat tidak jenuh dengan lakon yang ada,” pungkas Maretha.

 

 

Berita Terkait :


dava3.jpg
HOT NEWS
meloncell.jpg
rahma jaya.jpg