Ekonomi
Bagikan berita :
Sabtu, 07 Januari 2017 - 06:38:30 | tsaniyah-faidah / Sorot Gunungkidul

Akali Perizinan, Pendirian Mini Market Modern Abal-Abal Terus Menjamur

Akali Perizinan, Pendirian Mini Market Modern Abal-Abal Terus Menjamur
Space Iklan
ilustrasi by google

Wonosari,(sorotgunungkidul.com)--Rentang tahun 2015 hingga 2016 lalu merupakan tahun yang cukup sulit bagi para pelaku usaha warung kelontong. Bukan lantaran daya beli masyarakat yang menurun, akan tetapi semakin maraknya toko modern yang berdiri di Gunungkidul. Wonosari menjadi area yang paling besar terdampak mini market modern dengan izin diduga akal-akalan ini. Dalam kurun waktu setahun terakhir, perkembangannya mencapai sampai 3 kali lipat dari sebelumnya yang hanya terpantau 1 toko.

Ironisnya, pendirian toko modern tersebut terkesan mengakali peraturan agar bisa tetap berdiri. Di saat pemberlakuan peraturan yang membatasi pendirian mini market modern di Gunungkidul, banyak investor yang tetap membuka jenis usaha ini dengan hanya mengganti nama saja. Hanya dalam kurun waktu 1,5 tahun terakhir, pertumbuhan mini market modern di Gunungkidul dengan izin diduga abal-abal ini meningkat hingga lebih dari 2 kali lipat.

Berdasarkan pantauan media, di Gunungkidul sedikitnya terdapat 5 mini market modern mirip dengan ritel ternama tersebut. Masing-masing toko yang terpantau oleh sorotgunungkidul.com diantaranya 3 toko di Kecamatan Wonosari, 1 toko di Kecamatan Karangmojo dan 1 di Kecamatan Ngawen. Padahal dulu Gunungkidul hanya memiliki dua toko semacam itu.

Tidak hanya logonya yang hampir sama, tata letak di dalam toko dan sistem jual belinya pun demikian. Bahkan produk yang dijual, memakai produk keluaran Indomaret, seperti makanan ringan, tissue dan label harga. Jika ditengok ke dalam, pembeli mungkin merasakan suasana yang hampir mirip. Yang membedakan hanyalah nama toko modernnya dan seragam yang digunakan petugas.

Kelima toko yang termaksud, dalam perizinan rupanya memakai atas nama pribadi. Mereka tidak berizin sebagai toko yang bekerja sama dengan ritel ternama seperti Indomaret maupun alfamart. Padahal, saat sorotgunungkidul.com bertanya pada petugas di sebuah mini market modern akal-akalan tersebut, mereka berdalih toko tempatnya bekerja merupakan usaha franchise.

“Iya, jadi ini franchice dengan Indomaret. Toko ini ada di bawahnya Indomaret, semacam itulah,” katanya, Jumat (06/01/2017) malam, saat wartawan sorotgunungkidul.com mencoba untuk mengorek informasi.

 Tidak hanya petugas toko, wartawan yang berhasil menemui petugas Indomaret yang saat itu juga ditemui sedang mengantarkan barang mengaku, tidak masalah dengan adanya pendirian toko dengan nama lain meski memiliki sistem yang sama dengan Indomaret. Pasalnya toko yang berdiri merupakan usaha franchise dimana pengelolaannya berada di bawah naungan perusahaan tempatnya bekerja.

“Semua barang yang dijual, kalau francise dengan Indomaret, ya produknya harus dari kami. Meski bukan pakai nama Indomaret tidak masalah. Yang penting barang-barang yang dijual dari kami semua. Kalau tokonya punya Indomaret, ya tidak boleh pakai nama lain. Harus Indomaret,” jelas petugas Indomaret tersebut.

Sebagai informasi, yang dimaksud ritel atau toko modern berdasarkan Pasal 1 butir 5 Perpres 112/2007 jo Pasal 1 butir 5 Permedag 53/2008, yaitu toko dengan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran yang berbentuk minimarket, supermarket, departement store, Hypermarket ataupun grosir berbentuk perkulakan. Adapun pembinaan dan pengawasannya, merupakan kewenangan pemerintah agar implementasi perizinan toko modern mengacu pada peraturan pelaksanaan yang ditetapkan.

 

Berita Terkait :


dava3.jpg
HOT NEWS
meloncell.jpg
rahma jaya.jpg