Ekonomi
Bagikan berita :
Minggu, 08 Januari 2017 - 12:48:45 | tsaniyah-faidah / Sorot Gunungkidul

Harga Cabai Melejit, Petani Cabai Tak Ikut Untung

Harga Cabai Melejit, Petani Cabai Tak Ikut Untung
Space Iklan
ilustrasi by google

Semanu,(sorotgunungkidul.com)--Meroketnya harga cabai rawit merah justru tidak dinikmati hasilnya oleh petani cabai di Gunungkidul. Hal yang mengherankan ini tentunya sangat berbanding terbalik dengan tingginya harga cabai di pasaran yang kenaikannya tak terkendali.

Salah seorang petani cabai di Ngeposari, Kecamatan Semanu, Rahmat mengaku, dirinya praktis tidak bisa ikut menikmati hasil tingginya harga cabai itu. Akibat hujan turun tak menentu membuat cuaca menjadi lembab, hingga tanaman cabai yang ditanamnya malah layu dan mati sebelum berbunga.

“Harga cabai dari petani memang ikut naik, dari biasanya Rp 10.000 jadi Rp 20.000. Tapi itu karena pasokannya yang sedikit,” katanya, Minggu (08/01/2017).

Rahmat melanjutkan, meski ada kenaikan harga dari petani, dirinya tidak banyak mengambil untung. Keuntungan dari lonjakan harga pun sangat tipis lantaran hasil panen yang juga sedikit. Dalam satu batang pohon idealnya bisa menghasilkan sekitar 0,5 sampai 1 kilogram, namun saat ini hanya mampu menghasilkan 0,3 kilogram cabai.

Kenyataan demikian, jelas dapat diambil kesimpulan bahwa harga cabai yang naik bukan karena permintaan (demand) yang tinggi, tetapi karena kurangnya (shortage) pasokan yang ada. Padahal untuk menanam cabai, petani harus membeli plastik mulsa untuk penutup tanah seharga Rp 37 ribu per kilogram.

“Untuk lahan seribu meter persegi setidaknya dibutuhkan 20 kg mulsa. Belum lagi harga lanjaran sama pupuk dasar,” keluh Rahmat.

 

Berita Terkait :