Wisata
Bagikan berita :
Kamis, 12 Januari 2017 - 15:18:06 | renna-anggabenta / Sorot Gunungkidul

Jajan di Pinggir Pantai Habis Setengah Juta, Dinas Diminta Intensifkan Pengawasan

Jajan di Pinggir Pantai Habis Setengah Juta, Dinas Diminta Intensifkan Pengawasan
Space Iklan
ilustrasi by google

Wonosari,(sorotgunungkidul.com)--Tidak bisa dipungkiri, dalam pengembangan pariwisata, citra merupakan salah satu yang menjadi tolak ukur utama. Banyak orang bahkan menyebut bahwa terjun di sektor wisata sama saja dengan jualan citra.

Sayang di saat perkembangan yang cukup positif terhadap pariwisata di Gunungkidul, masih terdapat banyak oknum yang berusaha mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperhitungkan faktor citra ini. Hal semacam ini tentu saja harus mendapatkan perhatian khusus agar sektor pariwisata di Gunungkidul terus menggeliat.

Anggota DPRD DIY, Slamet S.Pd meminta kepada Dinas Pariwisata (Dinpar) Gunungkidul untuk meningkatkan pengawasan. Terutama yang paling krusial adalah masalah harga pada sektor kuliner di pinggir pantai. Banyak pengusaha disebut Slamet memberlakukan harga yang cukup tinggi kepada makanan yang dijualnya.

“Ini harus diantisipasi sejak awal, jangan sampai menjamur. Entah itu segera ditindak atau hanya dilakukan pembinaan saja yang penting ada upaya antisipatif dari SKPD terkait,” papar Slamet, Kamis (12/01/2017).

Apa yang disampaikan Slamet ini bukan tanpa dasar. Politisi Golkar ini beberapa waktu lalu sempat menjadi korban praktek penggelembungan harga oleh pemilik rumah makan di Pantai Slili. Kala itu ia bersama keluarganya memesan 3 kilogram ikan kakap dan 7 es kelapa muda di sebuah rumah makan. Saat membayar, ia sempat kaget lantaran pemilik warung makan mematok harga hingga nyaris mendekati setengah juta rupiah.

Sebuah harga yang menurut Slamet tidak sepadan dengan kualitas makanan maupun lokasi rumah makan. Ia mengakui, memang banyak restoran yang mematok harga jauh di atas rata-rata. Namun restoran-restoran tersebut kebanyakan menyediakan tempat yang representatif dan yang paling penting adalah mencantumkan harga pada tabel menunya.

“Bukannya saya mempermasalahkan apa yang terjadi pada saya. Saya cuma tidak ingin hal serupa terjadi kepada wisatawan lain sehingga membuat kapok,” imbuh dia.

Praktek penggelembungan harga atau bisa diistilahkan nuthuk ini memang menjadi praktek yang banyak dikeluhkan oleh para wisatawan tak hanya di Gunungkidul, akan tetapi di Yogyakarta. Kabar mengenai keluhan ini banyak berseliweran di media sosial dan tak jarang menuai hujatan dari netizen.

Berita Terkait :


dava3.jpg
HOT NEWS
meloncell.jpg
rahma jaya.jpg