Pemerintahan
Bagikan berita :
Senin, 06 Februari 2017 - 20:08:32 | renna-anggabenta / Sorot Gunungkidul

Wakil Bupati : Gantung Diri Bukan Masalah Simpel, Ada Unsur Spiritual dan Budaya

Wakil Bupati : Gantung Diri Bukan Masalah Simpel, Ada Unsur Spiritual dan Budaya
Space Iklan
ilustrasi by google

Wonosari,(sorotgunungkidul.com)--Selama bertahun-tahun, masalah tingginya angka gantung diri menjadi sebuah masalah yang dilematis bagi pemerintah yang berkuasa. Di satu sisi, upaya penanggulangan terus dilakukan akan tetapi angka gantung diri di Gunungkidul tak kunjung menukik. Awal tahun 2017 ini bahkan wilayah Gunungkidul kembali digegerkan dengan serentetan aksi nekat gantung diri.

Tercatat sedikitnya sudah terjadi 8 kasus gantung diri yang tersebar di hampir seluruh wilayah Gunungkidul dalam kurang dari 40 hari terakhir. Sebuah fakta yang miris tentunya dan memerlukan kesigapan dari berbagai pihak termasuk diantaranya pemerintah dalam melakukan langkah antisipasi.

Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi menerangkan bahwa penanganan gantung diri di Gunungkidul tidak bisa disamakan dengan penanganan permasalahan yang umum. Di Gunungkidul, berdasarkan data yang ada, faktor yang irasional disebut Immawan sebenarnya cukup dominan. Meski terkesan tidak ilmiah, namun hal ini menjadi hal yang disebutnya cukup dominan dalam serangkaian gantung diri yang selama ini terjadi.

“Melihat dari kasus per kasus gantung diri yang terjadi, ini bukan masalah hitam putih dan rasional saja. Kita juga harus memandang masalah ini dari aspek spiritual dan kultural juga sangat diperlukan,” papar Immawan kepada sorotgunungkidul.com, Senin (06/02/2017).

Menurutnya, penanganan terhadap tingginya angka gantung diri di Gunungkidul yang bahkan disebut-sebut yang tertinggi di Indonesia ini diperlukan kajian yang sangat mendalam. Artinya analisa kasus per kasus sangat diperlukan untuk menentukan nantinya kebijakan apa yang bisa diambil pemerintah serta instansi lainnya dan juga aparat keamanan guna mereduksi angka gantung diri hingga serendah mungkin.

Faktor kemiskinan, asmara hingga kesehatan justru disebut Immawan bukan merupakan faktor utama penyebab gantung diri. Seperti misalnya untuk kasus gantung diri yang terjadi di Banaran dan dilakukan oleh putra sang kepala desa. Dilihat dari faktor pendidikan maupun ekonomi, sebagai putra Kepala Desa tentunya masuk dalam kalangan menengah. Menjadi tidak masuk akal saat yang bersangkutan hanya lantaran masalah asmara nekat melakukan gantung diri.

Pernah juga ia mendapatkan laporan mengenai kasus gantung diri yang ia anggap cukup aneh. Dua orang nyaris melakukan gantung diri lantaran ajakan makhluk halus. Keduanya sempat menuju ke sebuah tempat pemakaman di mana satu orang diantaranya langsung melakukan gantung diri.

“Satu orang lagi cukup beruntung karena kemudian tersadar dan tidak jadi melakukan gantung diri. Ada juga yang bingung karena bagi warisan hingga sampai depresi. Hal semacam ini tentunya cukup aneh dan harus kita telaah juga secara komprehensif dan holistik karena saya yakin tidak semudah itu mengantisipasi gantung diri di Gunungkidul,” lanjut dia.

Jika dilihat dari faktor agama, politisi PAN ini juga sempat mendapatkan laporan perihal adanya korban gantung diri yang melakukan aksi tersebut usai melaksanakan sholat berjamaah. Melihat kasus ini tentu juga membuat kurangnya pengetahuan perihal keagamaan langsung tertepis dengan sendirinya. Lantaran menurut analisanya, seorang yang sudah melakukan sholat berjamaah apalagi secara rutin, kadar keislaman maupun pengetahuan agamanya sudah dalam taraf lanjut.

Immawan juga meghimbau kepada semua pihak untuk menahan diri dan tidak membuat kabar gantung diri menjadi viral maupun menjadi bahan pembicaraan. Adanya hal ini ia sebut bisa menjadi pendorong orang yang sudah berhalusinasi ingin melakukan gantung diri kemudian melakukannya.

Sesuai dengan ilmu psikologi, banyaknya pembicaraan mengenai gantung diri bisa kemudian dijadukan justifikasi legitimasi bagi orang yang mengidap permasalahan sosial.

“Istilahnya dia berpikir bahwa banyak orang yang gantung diri kenapa saya tidak,” ucapnya.

Untuk itulah kemudian ia merasa sangat diperlukan adanya pengkajian khusus yang nantinya bisa memetakan masalah gantung diri ini agar bisa dicari solusi yang paling tepat. Saat ini, selain tim khusus yang telah dibentuk Bupati, pihaknya juga mengumpulkan sejumlah aktifis guna melakukan kajian. Para aktifis ini nantinya diharapkan bisa memberikan paparan khusus mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan bisa memberikan dimensi baru terhadap pandangan perihal apa dan bagaimana gantung diri bisa terjadi dan terus terjadi.

“Sudah komunikasi intens dengan saya, dalam waktu dekat ini, hasil kajian akan dipaparkan. Nantinya semua stakeholder kita undang untuk bisa membahas bersama hasil kajian ini,” lanjut dia.

Pada dasarnya urun rembug dari semua pihak sangat dibutuhkan pemerintah untuk mengantisipasi gantung diri. Hal ini dikarenakan, pihaknya tidak mungkin memonitor semua warga secara satu per satu. Wakil Bupati merasa bahwa tingginya angka gantung diri bukan semata-mata kesalahan pemerintah. Namun demikian, hal semacam ini bisa menjadi pendorong bagi jajarannya untuk bekerja lebih keras dalam mengatasi permasalahan ini.

“Hal semacam ini bersifat spontan sehingga susah untuk diprediksi. Yang langsung ditangani oleh psikiater saja banyak kecolongan apalagi yang tidak sempat ditangani oleh dokter jiwa,” tutup Immawan.

Berita Terkait :