Ekonomi
Bagikan berita :
Jumat, 10 Februari 2017 - 11:18:18 | tsaniyah-faidah / Sorot Gunungkidul

Efek Domino Melambungnya Harga Cabai, Pedagang Cabai dan Kuliner Buntung

Efek Domino Melambungnya Harga Cabai, Pedagang Cabai dan Kuliner Buntung
Space Iklan
ilustrasi by google

Wonosari,(sorotgunungkidul.com)--Secara keekonomian, melambungnya harga cabai seharusnya membawa keuntungan bagi petani maupun pedagang cabai. Namun ternyata, melambungnya harga cabai rawit merah sekarang ini justru membuat para pedagang buntung. Tingginya harga tersebut membuat minat beli konsumen menjadi menurun sehingga ratusan kilogram cabai urung terjual.

Seperti yang dikeluhkan Joko, pedagang cabai di Pasar Argosari, Wonosari. Satu kuintal cabai rawit merah yang saat itu ia jual Rp 130.000 per kg tidak laku sehingga membuatnya merugi hingga jutaan rupiah.

"Padahal saya sudah mengurangi jumlah cabai yang dijual lho. Biasanya saya jual 2 kuintal, tapi sejak cabai mahal cuma jual 1 kuintal saja. Itu pun tidak laku," keluhnya, Jumat (10/02/2017).

Stok yang tidak laku, lanjut Joko, lama-lama akan membusuk dan akhirnya terbuang percuma. Hal itulah yang membuatnya rugi sebab modal untuk membeli cabai rawit merah tidak berbalik.

"Saat ini, pembeli lebih memilih cabai merah. Akhirnya, cabai rawit merah tidak terjual," kata dia.

Kerugian tidak hanya dialami oleh pedagang cabai saja. Meroketnya harga cabai membuat pusing sejumlah penjual masakan sebab cabai merupakan salah satu bahan utama untuk sejumlah masakan.

"Saya setiap hari hanya membeli cabai setengah kilogram saja. Kalau biasanya satu kilogram sehari untuk meracik seluruh masakan yang saya jual," kata Deti, seorang penjual masakan di kawasan Pasar Argosari.

Ia mengaku lebih memilih mengurangi cabai pada masakannya daripada menaikkan harga jual, sebab akan mendapat banyak komplain dari pembelinya. Apalagi sudah belakangan terakhir harga cabai sangat tinggi, sehingga dirasa pembeli memaklumi apabila masakannya kali ini kurang pedas seperti biasanya.

"Memang rasa pedas jadi kurang, tapi mereka tahu harga cabai sedang mahal. Daripada per porsi harganya saya naikkan, mending kurangi takaran cabainya," tutur Deti.

Berbeda dengan Amah, salah seorang pedagang lotek di Wonosari. Untuk menyiasati agar tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya, ia mulai menggunakan cabai kering untuk bumbu masakannya.

Cara ini dilakukan sejak sebulan terakhir, ketika harga cabai rawit terus melonjak. Meski rasa masakannya berbeda saat menggunakan cabai kering, namun karena pertimbangan biaya produksi, Amah terpaksa memilih mencampur cabai rawit kering dan segar untuk memasak.

"Yang penting tetap pedas sesuai dengan selera pelanggan," katanya.

Berita Terkait :