Pemerintahan
Bagikan berita :
Jumat, 17 Februari 2017 - 10:17:47 | tsaniyah-faidah / Sorot Gunungkidul

Apesnya Nasib Tenaga Honorer K-2, Berupah Rendah dan Insentif Dihapus

Apesnya Nasib Tenaga Honorer K-2, Berupah Rendah dan Insentif Dihapus
Space Iklan
ilustrasi by google

Wonosari,(sorotgunungkidul.com)--Tunjangan insentif pemerintah untuk tenaga Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang diambilkan dari dana APBD rupanya tidak berlaku bagi kelompok pegawai berkategori 2 (K2). Mereka masih harus menerima nasib bekerja dengan bayaran yang belum sesuai harapan. Apalagi sejak tahun lalu, Pemerintah DIY juga sudah menghentikan kucuran insentif.

Ketua Forum Honorer Gunungkidul, Didik Joko Santoso mengatakan, pegawai honorer K2 baik tenaga didik maupun kesehatan, tidak lagi mendapatkan insentif dari Pemerintah Kabupaten sejak tahun 2010 lalu. Selama ini, gaji yang mereka peroleh hanya mengandalkan bayaran dari iuran komite. Itu pun berada di kisaran Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per bulan.

"Padahal kelompok K2 katanya sebagai urutan pertama bisa menjadi PNS, tapi gaji kami tak kunjung sesuai dengan UMK," katanya, Jumat (17/02/2017).

Oleh sebab itu, pihaknya meminta kepada pemerintah agar tenaga honorer K2 mendapatkan upah sesuai dengan nilai yang ditetapkan kabupaten. Pasalnya, kata Didik, daerah lain di luar Gunungkidul sudah mulai menerapkan gaji sesuai dengan UMK di masing-masing daerahnya.

"Kami juga meminta diberikan jaminan kesehatan. Karena tugas kami hampir sama berat dengan mereka yang berstatus PNS," ucap Didik.

Berbicara mengenai tenaga honorer memang tidak lepas dari masalah kesejahteraan yang mereka terima. Bukan rahasia umum, masalah kesejahteraan adalah salah satu hal yang mendasari kenapa tenaga honorer ingin mendapatkan gaji yang setara dengan standar UMK.

Di Gunungkidul sendiri, tenaga honorer K2 berjumlah 78 orang dari akumulasi tenaga pendidik dan kesehatan. Dari jumlah tersebut, mayoritas tenaga K2 berprofesi sebagai guru.

Berita Terkait :